Pertamina Raup Laba Rp 16,77 Triliun

JAKARTA, KOMPAS.comRapat Umum Pemegang Saham PT Pertamina (Persero) yang dilaksanakan pada 14 Juni 2011 dan berakhir pada pukul 22.00 di Kantor Kementerian BUMN menyetujui dan mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan tahun buku 2010 (audited) dengan pencapaian laba sebesar Rp 16,77 triliun. Pemegang saham juga menyepakati pembayaran dividen kepada pemerintah Rp 7,12 triliun.

Hal ini disampaikan Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero) Mochamad Harun dalam siaran pers, Rabu (15/6/2011) di Jakarta.

Laba pada tahun 2010 ini meningkat 3 persen dibandingkan laba 2009. Perseroan itu juga mencatat kerugian sebesar Rp 2,5 triliun pada penjualan bahan bakar minyak bersubsidi akibat rendahnya patokan alpha yang diberikan pada Pertamina dan kerugian dari bisnis LPG non-PSO (12 kilogram dan 50 kg) Rp 3,24 triliun. " Sehingga apabila tanpa kerugian, keuntungan Pertamina bisa mencapai Rp 22,51triliun," ujarnya.

Menurut Harun, laporan penilaian tingkat kesehatan perusahaan menunjukkan Pertamina mencapai tingkat kesehatan perusahaan sehat pada kategori AA dengan skor 90,85. Ini berarti ada peningkatan dari skor di tahun 2009, yaitu A dengan skor 79,21. Sementara, pencapaian skor Korporat 86,79 persen di tahun 2010 yang termasuk dalam kategori baik, meningkat dibandingkan tahun 2009 yang sebesar 83,56 persen.

Selain itu, pemegang saham Pertamina menyetujui dan mengesahkan Rencana Jangka Panjang Pertamina, di antaranya target laba Rp 54 triliun pada tahun 2015 dan perubahan visi perusahaan yang semula menjadi Perusahaan Migas Nasional Kelas Dunia menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia.

"Dengan perubahan visi ini, Pertamina menunjukkan komitmennya untuk lebih mengembangkan energi alternatif, energi baru dan terbaharukan sebagai usaha menjaga pemenuhan energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," kata Harun.

Kinerja operasional Pertamina tahun 2010 bidang hulu menunjukkan, peningkatan produksi minyak 9 persen, gas 6 persen, dan panas bumi 1 persen dibandingkan tahun 2009. Pada tahun 2010 perseroan itu mencatatkan produksi minyak 70 juta barrel dan produksi gas 532,8 BSCF atau total migas 443,79 MBOEPD. Sebelumnya, pada tahun 2009 produksi Pertamina 412,94 MBOEPD yang terdiri dari produksi minyak 64,40 juta barrel dan gas 502,05 BSCF.

Pada tahun 2010 akuisisi yang dilakukan Pertamina mencakup mengakuisisi blok Offshore South East Sumatera (OSES)13,07 persen, menambah hak partisipasi di Blok Offshore North West Java (ONWJ) 7,25 persen, dan kesertaan Pertamina di Blok Semai II (Papua Barat) 15 persen melalui mekanisme hak partisipasi Pertamina atau PPI. Pertamina juga menambah 2 konsesi blok gas metana batubara (CBM), yaitu Blok Muara Enim I (Sumatera Selatan) dan Blok Tanjung I Area 2 (Kalimantan Selatan).

Untuk pengembangan kilang, Pertamina melakukan studi revitalisasi/rekonfigurasi kilang dengan teknologi baru guna meningkatkan kompleksitas dan menambah kapasitas kilang melalui program investasi, antara lain RFCC RU IV Cilacap, Proyek Langit Biru Cilacap, Bottom Up Grading kilang RU V Balikpapan, dan pembangunan kilang baru di Balongan