Industri Gas Diuntungkan Krisis Nuklir Jepang

Berbagai negara menetapkan nuklir sebagai energi alternatif

VIVAnews - Krisis yang sedang berlangsung di kompleks tenaga nuklir


Fukushima, Jepang dapat dipastikan telah merugikan industri nuklir,


yang tengah berada dalam masa kebangkitan.



"Ini paling tidak merupakan bencana bagi seluruh industri nuklir, bahkan setelah para pekerja Fukushima berlomba dengan waktu untuk membawa kembali ke situasi yang terkendali," kata Ravi Krishnaswamy, Vice President, Energy and


Power Systems Practice, Asia Pasifik, Frost & Sullivan, dalam keterangan tertulis yang diterimaVIVAnews.com di Jakarta.



Menurut Ravi, berbagai negara di seluruh dunia telah menetapkan kebijakan untuk memperkenalkan nuklir sebagai salah satu bahan bakar alternatif.



Saat ini, beberapa negara termasuk Jerman dan Swiss dihadapkan pada pilihan untuk menutup pembangkit listrik yang telah ada atau menunda pengembangan tahap lanjut yang telah direncanakan. Meski demikian, banyak negara lain termasuk Amerika Serikat, Italia, Polandia, dan Indonesia telah berkomitmen untuk melanjutkan rencana mereka.



Dalam situasi yang cepat berubah tersebut, dia menjelaskan, gas alam tampaknya akan menjadi produk yang mendapatkan keuntungan. Permintaan terhadap gas alam menguat seiring dengan meningkatnya distribusi kargo liquefied natural gas (LNG) ke Jepang.



Peningkatan permintaan tersebut diperkirakan cenderung berlangsung dalam jangka waktu yang panjang ketimbang jangka pendek. Kurang lebih setengah lusin pembangkit listrik yang telah ditutup di Jepang akan didukung dengan sistem pembangkit listrik sumber gas alam dan batu bara.



Dia menambahkan, dilihat dari skala kerusakan, tampak bahwa tindakan penutupan pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut akan berlangsung minimal selama tiga tahun, jika tidak untuk selamanya.



"Kemungkinan besar harga untuk batu bara dan gas alam akan meningkat dalam jangka pendek dan terus naik dari harga saat ini dalam jangka panjang," ujarnya.



Jepang adalah importir terbesar LNG di dunia dan hampir 70 persen sumber impor LNG tahunan Jepang berasal dari Australia, Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Bahkan, sebelum terjadi bencana, harga gas alam diperkirakan meningkat menjadi US$5 hingga US$6 mmbtu pada 2012 seiring dengan meningkatnya permintaan.



Peristiwa yang terjadi baru-baru ini, menurut Ravi, turut mendorong peningkatan permintaan yang lebih tinggi. Hal itu dibuktikan nanti dengan angka penjualan gas alam melampaui prakiraan angka-angka pada 2012.



"Pengalihan pasokan gas dari pelanggan reguler di Eropa ke Jepang berpengaruh pada meningkatnya harga gas di Eropa," ujarnya.

Qatar sebagai contoh. Didorong untuk memasok kebutuhan tambahan LNG ke


Jepang telah menimbulkan kecemasan pelanggan di Eropa yang sekarang tidak akan memiliki cadangan ketika permintaan meningkat.



Qatar memasok sekitar 12 persen dari total impor LNG Jepang pada 2009. Pasokan LNG dari Qatar ke Jepang diharapkan meningkat dua kali lipat pada 2012 dibandingkan 2009 untuk mengimbangi kekurangan pasokan energi yang ditimbulkan oleh berkurangnya pasokan dari tenaga nuklir.



Selain yang ada, dia menjelaskan, sumber-sumber konvensional lain seperti coal seam gas(CSG) dan shale gas dapat dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan gas. Proyek gas lapisan batu bara di Indonesia dan Australia kemungkinan besar adalah sektor yang paling mungkin untuk dikembangkan setelah terjadinya bencana Jepang.



Proyek-proyek CSG di Indonesia dan Australia, menurut dia, juga mendapat tekanan media terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan. Namun, dampak buruk dari industri CSG terhadap masyarakat tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan dampak langsung dari akibat yang mungkin ditimbulkan oleh bencana tenaga nuklir.



Sebagian besar CSG untuk proyek LNG di Australia saat ini, Ravi menambahkan, cenderung mengalami perkembangan yang jauh lebih baik.