Kelelawar Telinga Panjang Belum Punah

KOMPAS.com — Kelelawar telinga panjang (Plecotus auritus) sudah tak ditemukan sejak tahun 1960. Statusnya menjadi misteri di kalangan para ilmuwan, apakah masih eksis atau sudah mengalami kepunahan.

Penelitian Dr Fiona Matthews dari University of Exeter bersama tim peneliti The Scilly Isles Bat Group berhasil menguak misteri itu. Mereka menemukannya kembali di sebuah pohon cemara di wilayah Monterey.

"Kami terkejut dengan penemuan ini dan senang sebab menemukan betina yang sedang hamil. Ini memberi petunjuk adanya koloni kelelawar jenis ini yang berkembang biak," ujar Matthews.

"Kami menemukan individu ini tengah bertengger di pohon cemara Monterey dan makan di sepanjang deretan pohon elm. Kita jadi mengetahui bahwa ada kelelawar itu di sana," kata Matthews seperti dikutipFoxnews, Jumat (17/6/2011).

Dengan penemuan ini, kata Matthews, upaya konservasi sudah harus mulai dilakukan. Langkahnya bisa dimulai dengan menanam spesies pohon yang menarik serangga malam dan membatasi iluminasi cahaya. Selain itu, bisa pula dilakukan dengan memberi ruang yang baik.

"Kelelawar tidak membuat sarang, maka induknya harus mencari tempat baik sehingga bayinya hangat kala malam dan induk bisa keluar mencari makan," urai Matthews.

Matthews mengatakan, ruang bagi kelelawar telinga panjang bisa berupa gedung, box kelelawar, ataupun lubang pohon. Hilangnya kelelawar telinga panjang sebelumnya dipercaya adalah akibat minimnya ruang.

Kelelawar telinga panjang memiliki beberapa ciri khas, di antaranya, telinga yang panjangnya tiga perempat panjang kepala, selalu melipat telinga kala istirahat, memakan ulat, serta mempunyai kemampuan ekolokasi yang rendah. Jenis kelelawar ini terbang rendah sehingga rentan dengan serangan kucing domestik. Spesies ini merupakan satu di antara 18 spesies kelelawar yang bisa dijumpai di Inggris.


Sumber Kompas