Ferry Lestarikan Lukisan Kulit Kayu Turun Temurun

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekalipun usaha lukisan kulit kayu ini bersifat turun temurun, tidak serta merta Yanfrits Kaigere bisa menjalankannya dengan mudah.

Ferry, begitu panggilan akrabnya telah melakukan usaha ini sejak belasan tahun yang lalu. "Sudah 15 tahun," sebut Ferry kepada Kompas.com, dalam acara pameran Usaha Kecil dan Menengah (UKM), di gedung SMESCO, awal pekan lalu.

Dengan kulit kayu khombouw, pria yang berasal dari Kampung Asey Besar, Kecamatan Sentani Timur, Kabupaten Jayapura ini, berhasil membuat lukisan yang indah. Menurutnya lukisan kulit kayu ini hanya ada di kampungnya, Asey. "Pertama kita cari kayu ke hutan, cari pohon, lalu kita tebang. Terus kita ukur per jengkal, dan kuliti. Kita kikis kulit luarnya di rumah, baru ditumbuk," ceritanya.

Setelah itu kayu hasil tumbukan dicelupkan ke dalam air, baru ditiriskan, dan dipakai. "Nggak bisa dari (jenis) pohon lain," tuturnya. Sebab, lanjut dia, kayu pohon ini seperti karet, bisa melar ketika ditarik.

Untuk pewarnaan, dia pun tidak macam-macam. Ferry mengutamakan pewarnaan secara natural. Ia gunakan kapur sirih untuk warna putih, arang digunakan untuk memberikan warna hitam, dan tanah untuk warna merah. "Kita jaga keaslian. Tapi yang lain mulai masuk ke (pewarnaan) yang modern, seperti cat," tambahnya.

Awalnya, ia hanya bekerja sendiri. Kini, ia berhasil memperkerjakan 5-10 orang sebagai pekerja tetap. "Saya tetap ikut. Saya yang menggambar lukisannya," ungkapnya. Pekerjanya membantu untuk proses pewarnaan.

Ia juga mengakui baru dua kali mengikuti pameran, dan keduanya diselenggarakan di Jakarta. "Pernah ke Bali, tapi hanya tarian (menjadi acara utama). Ada juga pameran (tetapi hanya sampingan," sebutnya.

Untuk harga, ia mengungkapkan bervariasi tergantung ukuran dan motif gambarnya. Harga yang termurah yaitu Rp 20.000, dan yang termahal bisa sampai ratusan ribu. Dalam sehari, ia pun bisa menghasilkan 5-6 lembar lukisan kulit kayu. "Biasanya orang lebih suka motif-motif asli, seperti (motif-motif) binatang. Kalau untuk mancanegara atau turis, mereka paling suka motif asli," ungkapnya.

Turis-turis asing membeli secara langsung kepadanya. Mereka berasal dari Amerika, Australia, Jepang, dan Belanda. Berbeda dengan masyarakat lokal, ia mengenakan harga yang lebih tinggi untuk para turis tersebut. Harganya bisa mencapai ratusan ribu. "Ada keinginan untuk ekspor," tambahnya, yang saat ini menyebutkan belum ada peluang untuk itu.

Kendala yang cukup mengganjal, ia menceritakan yaitu ketersediaan bahan baku, kulit kayu pohon tersebut. Saat ini, pencarian kayu pun semakin jauh dari tempat tinggalnya. "Kita suruh orang untuk cari. Terus kita bayar," tuturnya.

Kini, ia pun berpenghasilan sekitar Rp 4 juta dalam satu hingga dua minggu. Dari hasil usaha ini, ia pun berhasilkan menyekolahkan kedua anaknya yang saat ini berada di jenjang SMU dan SMP. Ke depannya, ia pun ingin mengembangkan lagi produknya. "Saya pribadi buka usaha di Sorong, Raja Ampat, di PT Papua Diving, yang dikelola orang Belanda. Jadi rutin kirim tiap bulannya," ungkapnya. Kini, usahanya telah diturunkan kepada kedua anaknya tersebut.