Mengolah Kresek Bekas Raup Rp 10 Juta

KOMPAS.com Siapa sangka, tas plastik alias kresek bekas bisa menjadi baju pengantin. Di tangan Erni S Nandang, limbah yang sulit terurai ini tak hanya bisa jadi bahan baju pengantin seharga jutaan rupiah, tetapi juga berbagai perlengkapan dan suvenir pernikahan. Dia pun dapat mengantongi omzet minimal Rp 10 juta per bulan dari bisnisnya tersebut.

Mungkin tidak ada dalam benak Anda, kantong plastik atawa kresek bekas bisa menjelma menjadi gaun pengantin. Tas kresek bekas juga dapat diolah menjadi aneka suvenir, kartu undangan, dan tempat hantaran prosesi pernikahan.

Beragam produk pernikahan berbahan baku kresek bekas itu lahir dari tangan Erni Suhaina Ilham Fadzry, atau populer dengan Erni S Nandang. Dia adalah pemilik Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bu Nandang di Cilacap, Jawa Tengah. Erni membuat pernak-pernik pernikahan berbahan baku kresek bekas pertama kali pada awal 2010.

Saat itu, ada salah satu anak didiknya di LPK Bu Nandang yang akan menikah. Kebetulan, orang itu peserta terbaik LPK. Karena itu, "Saya putuskan untuk memberi hadiah berupa kartu undangan, suvenir, dekorasi, dan gaun pengantin dari kresek bekas," kata Erni. Ya, LPK Bu Nandang selama ini memang lebih banyak bergerak dalam pelatihan kerajinan dari bahan baku limbah.

Di luar dugaan, banyak pengunjung pesta pernikahan anak didiknya itu yang tertarik dengan karya-karya Erni dari kresek bekas. Sejak saat itu, permintaan produk-produk perlengkapan pernikahan dari kresek bekas terus berdatangan. Erni lalu menjadikan usaha kerajinan ini sebagai bisnis intinya.

Tren dan kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, menurut Erni, membuat orang menyerbu barang-barang berbau go green. "Inilah yang membuat usaha kerajinan dari kresek bekas saya maju pesat," ujar dia.

Walaupun terbuat dari kresek bekas, baju pengantin bikinan Erni dijamin tidak gampang sobek atau menimbulkan alergi di kulit. Bahkan, dia juga membuat model baju pengantin yang lagi tren saat ini.

Untuk membuat baju pengantin tersebut, Erni mengumpulkan kresek bekas dari warga sekitar. Untuk itu, dia menyediakan tempat sampah khusus untuk menampung kresek bekas di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Cilacap.

Erni juga mendapat pasokan dari para peserta didik LPK Bu Nandang yang juga sering membawa kresek bekas dari rumah mereka masing-masing.

Walaupun lebih mudah mendapatkannya, Erni menolak menggunakan kresek baru sebagai bahan baku baju pengantin atau produk pernikahan lainnya. "Kalau memakai kresek yang baru, nilai penyelamatan lingkungannya tidak ada sama sekali," tuturnya.

Walaupun prosesnya lumayan panjang, Erni tak mengalami kesulitan dalam pembuatan gaun pengantin atau produk pernikahan lainnya dari plastik kresek bekas.

Setelah terkumpul, kresek bekas kemudian dibersihkan dan dipilah-pilah. Erni memilih plastik yang kuat sebab ada juga kresek yang terlalu rapuh untuk menjadi bahan baku utama. Dalam proses pembuatannya, Erni juga memanfaatkan alat khusus untuk mengubah kresek menjadi lembaran sehingga lebih rapih.

Kresek yang sudah berbentuk lembaran lalu digulung sampai kecil dan diikat dengan gelang karet. Setelah itu, ikatan plastik tersebut digabungkan hingga berbentuk segitiga.

Proses selanjutnya adalah menempelkan kresek yang telah berbentuk segitiga pada pola dengan cara dijahit. Pola-pola dasar itu kemudian disatukan hingga menjadi gaun pengantin.

Erni menambahkan glitter dan pernak-pernik lain, seperti mutiara yang terbuat dari kabel bekas untuk membuat baju pengantin lebih manis. "Saya banyak dibantu murid LPK Bu Nandang," katanya.

Untuk membikin satu set baju pengantin pria dan wanita, Erni membutuhkan kurang lebih 1.000 kresek bekas. Agar lebih alami, ia sengaja tidak menggunakan pewarna sama sekali.

Karena kebutuhan kresek bekas yang besar dan demi menjaga kelancaran produksi, Erni membangun tiga gudang penyimpanan kantong plastik bekas. Namun, ia mengungkapkan, keberadaan ketiga gudang itu pernah menyulut protes sang suami. "Akan tetapi, saya jawab nanti itu akan jadi uang," kata Erni tertawa.

Betul saja, kresek bekas kini memang jadi tambang uang. Pasalnya, harga jual satu set pakaian pengantin mencapai jutaan rupiah. Sayangnya, dia tidak mau blak-blakan mengungkap berapa harga pastinya. Alasannya, harga baju pengantin buatannya bergantung model yang diminta. "Memang mahal, karena ini langka. Kalau diibaratkan musik, ini termasuk jazz," kata Erni.

Namun, Erni menuturkan, masih banyak masyarakat yang ragu memakai baju pengantin dari kresek bekas. Makanya, pesanannya tak sebanyak produk pernikahan buatannya yang juga terbuat dari kresek bekas, seperti kartu undangan dan suvenir.

Dengan bahan bekas itu, Erni juga membuat tempat hantaran pernikahan dengan bentuk Candi Borobudur. Harga jualnya cuma Rp 35.000 per unit. Adapun harga produk suvenir mulai Rp 500 per unit. Dalam setiap pemesanan, dia minimal mendapat order pembuatan 10 hantaran dan 1.000 suvenir.

Jika ditambah pesanan pakaian pengantin, ia mendapat omzet paling sedikit Rp 10 juta setiap bulan. Pendapatannya akan lebih besar lagi kalau Erni memperoleh pesanan baju lebih banyak lagi. Maklum, "Marginnya besar sebab modalnya, kan, hanya keterampilan," katanya.

Berbagai pelatihan, baik tentang pembuatan produk dari limbah maupun mengenai kesadaran lingkungan, menjadi ajang promosi produk-produk Erni. (Dharmesta/Kontan)

Anak Peternak Lebah yang Jadi Taipan

KOMPAS.com - Siapa sangka, anak seorang peternak lebah madu bisa menjadi pengusaha tajir. Richard Chandler, pemilik R.F. Chandler, perusahaan investasi yang membiakkan duitnya di pelbagai sektor usaha, mulai minyak dan gas (migas), telekomunikasi, hingga perbankan, kini menjadi orang terkaya di dunia urutan ke 307 versi Majalah Forbes. Kekayaan lelaki asal Selandia Baru dan bekas CEO Sovereign Group of Companies ini ditaksir mencapai 3,4 miliar dollar AS.

Bagi penduduk Selandia Baru dan Singapura, nama Richard Chandler tidak asing lagi di telinga mereka. Pasalnya, pria kelahiran Negeri Kiwi yang bermukim di Negeri Merlion itu merupakan salah satu orang paling kaya di kedua negara tersebut.

Tahun ini, Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Richard mencapai 3,4 miliar dollar AS, yang sekaligus menempatkannya sebagai orang terkaya nomor 5 di Singapura dan 307 di dunia. Kekayaan Chandler berasal dari Sovereign Group of Companies, perusahaan investasi yang dibangun bersama saudaranya.

Tetapi, tak banyak yang tahu bahwa Richard adalah anak seorang peternak lebah madu. Ia lahir dan besar di daerah Matangi, yang terletak di sebuah pulau kecil di bagian utara Selandia Baru. Selain beternak lebah, ayahnya, Robert Chandler juga memiliki departemen store kecil-kecilan bernama Chandler House.

Melihat usaha departemen store sang ayah tidak berkembang, pada 1986, Richard bersama saudaranya Christopher Chandler, memutuskan menjualnya. Dua kakak beradik ini kemudian menggunakan dana hasil penjualan tersebut untuk mendirikan perusahaan bernama Sovereign Group of Companies.

Richard dan Christopher mengelola Sovereign Group sebagai perusahaan investasi yang fokus melakukan penanaman modal di sektor-sektor swasta yang ada di kawasan Asia.

Salah satu sektor yang dimasuki Sovereign Group adalah bisnis real estate di Hong Kong. Hanya dalam tempo beberapa tahun, nilai investasi di bekas jajahan Inggris tersebut naik berlipat-lipat. Terutama ketika Inggris menyerahkan Hong Kong ke pelukan China pada akhir periode 1990-an.

Keuntungan Sovereign Group makin berlipat setelah investasi mereka di sektor usaha lainnya, seperti migas, telekomunikasi, kelistrikan, baja, penyulingan minyak, dan perbankan, juga menuai sukses besar.

Selain kejelian memilih investasi, kesuksesan yang diraih Richard dan Christopher juga lantaran keduanya hanya fokus menanamkan modalnya di sektor-sektor swasta di wilayah Asia. Namun, keduanya tak puas begitu saja. Ia terus berupaya mengembangkan bisnisnya.

Mereka akhirnya masuk juga ke proyek-proyek milik pemerintah, tak hanya di Asia tapi juga di kawasan Eropa Timur dan Amerika Latin. Dengan modal pengalamannya selama ini di sektor swasta, mereka yakin bisa mendulang sukses juga di proyek-proyek pelat merah.

Namun, pada 2006, Richard dan Christopher sepakat pisah kongsi. Aset Souvereign Group lantas dibagi dua. Christopher kemudian mendirikan kerajaan bisnis baru di Dubai, Uni Emirat Arab: Legatum Capital. Sedangkan, Richard membangun kekaisaran usahanya di Singapura: Orient Global.

Di Singapura, Richard tetap melanjutkan investasinya dan fokus pada negara-negara berkembang di Asia. Contoh, di India, ia membeli saham Axis Bank sebesar 9,5 persen. Meski fokus membiakkan uangnya di negara berkembang, tidak menutup kemungkinan baginya berinvestasi di negara maju. Misalnya saja, di 2009, ia mengakuisisi 4,8 persen saham bank asal Rusia, Sberbank.

Pada April 2010, pria yang sudah menjadi warga negara Singapura sejak 2008 ini mengganti nama perusahaannya menjadi R.F. Chandler, yang tak lain merupakan singkatan nama Richard F. Chandler. Selain mengganti nama kerajaan bisnisnya, ia kini juga fokus berinvestasi di pasar keuangan dan bidang sosial.

Perusahaan barunya memiliki slogan "Build Prosperity for Tomorrow's World", yang artinya: Membangun Kesejahteraan untuk Masa Depan Dunia.

Penunggang pasar bebas

Meski berkibar dengan bendera R.F. Chandler, nama besar Richard Chandler tidak bisa lepas dari Sovereign Group of Companies. Kendaraan bisnis yang dibangun bersama adiknya itu menjadi tunggangan Richard untuk melakukan pelbagai investasi ke penjuru dunia, mulai Asia, Afrika, Eropa Timur, hingga Amerika Latin. Untuk memuluskan ekspansi, misalnya, ia mendukung masa transisi sejumlah negara menuju pasar bebas dengan membeli obligasi pemerintah.

Awalnya, Sovereign Group of Companies yang dibangun Richard Chandler dan Christopher Chandler pada 1986 hanya fokus pada investasi di bidang ritel, manufaktur, dan properti di Selandia Baru saja. Tapi kemudian, kakak beradik itu mulai menyasar bisnis bertaraf internasional dengan masuk ke sektor perdagangan.

Investasi ini sekaligus menjadi titik awal bagi Richard dan Christopher mendirikan kerajaan bisnis berbasis investasi multisektor di luar Negeri Kiwi.

Ekspansi pertama Sovereign Group ke luar Selandia Baru adalah menaklukkan pasar Asia. Richard dan Christopher memilih Hong Kong sebagai pintu masuk ke benua terbesar di dunia tersebut. Investasi mereka tak jauh dari sektor properti. Dari investasi di portofolio real estate di Hong Kong sepanjang tahun 1986 hingga 1991, Sovereign Group menangguk untung besar, terutama pasca penyerahan Hong Kong dari Inggris ke tangan China pada akhir 1990 silam.

Setelah meraup banyak untung di Asia, Chandler bersaudara melanjutkan ekspansi Sovereign Group ke kawasan Amerika Latin. Selama 1991 hingga 1993, mereka juga memberikan dukungan pada upaya transisi negara-negara di belahan Selatan Amerika menerapkan sistem pasar bebas. Bentuk dukungan Sovereign Group dengan membeli obligasi yang diterbitkan pemerintah sejumlah negara di Amerika Latin.

Tentunya, mereka juga membiakkan duitnya di sektor-sektor swasta di wilayah tersebut. Misalnya, industri telekomunikasi di Brasil dan Argentina.

Sovereign Group juga menjadi salah satu investor asing pertama yang memegang portofolio di pasar saham Brasil pasca pemberlakuan pasar bebas di negara itu pada 1991. Negara Samba tersebut saat itu mengalami hiperinflasi karena penerapan kebijakan ekonomi ortodoks.

Setelah Amerika Latin, Sovereign Group meneruskan ekspansinya ke daratan Eropa Timur. Di wilayah yang terkenal dengan sistem komunis ini, Sovereign Group menjadi investor terkemuka. Sejak 1994 hingga 2004, perusahaan itu mencatatkan diri sebagai investor asing dengan portofolio terbesar di Rusia. Sovereign Group berhasil masuk ke beberapa sektor strategis. Contoh, industri baja, pembangkit listrik, serta minyak dan gas.

Selama masa itu, Sovereign Group juga mendukung kebijakan Rusia menuju ekonomi yang berorientasi pasar. Mereka juga mendorong tata pemerintahan yang baik dan transparansi perusahaan, serta mengupayakan peningkatan hak pemegang saham di Negeri Beruang Merah.

Setelah melanglang hingga Eropa Timur, pada 2002 Sovereign Group kembali memalingkan perhatiannya ke Asia, khususnya Jepang. Di Negeri Matahari Terbit ini, mereka melakukan investasi yang besar di sektor perbankan, saat negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu sedang mengalami deflasi. Tidak hanya satu dua tahun, deflasi menghantui Jepang selama satu dekade.

Deflasi yang berkepanjangan itu menyebabkan stabilitas ekonomi melemah dan pasar saham kurang bergairah. Namun, keadaan itu tidak berlangsung lama. Sebab, perbankan Jepang mulai fokus pada pemberian pinjaman dan pengembalian modal.

Pada 2003, Sovereign Group menyeberang ke Korea Selatan. Di Negeri Ginseng tersebut, mereka menjadi pemegang saham terbesar SK Corp, perusahaan penyulingan minyak dan kelompok bisnis terbesar ketiga di Korea Selatan. Sovereign Group memanfaatkan momen pemulihan perusahaan dari dampak penipuan berskala besar. Setelah menguasai SK, Sovereign Group menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan juga disiplin manajemen.

Orient Global

Bendera Sovereign Group of Companies tidak berkibar lama. Perusahaan yang melambungkan nama Richard Chandler ini terbelah menjadi dua setelah Richard dan adiknya Christopher Chandler memutuskan pisah kongsi. Setelah 20 tahun bahu-membahu membesarkan Sovereign Group, akhirnya, kakak beradik itu sepakat berjalan sendiri-sendiri pada Desember 2006. Richard kemudian mendirikan Orient Global dan memindahkan basis usaha ke Singapura.

Kenyataan Sovereign Group of Companies telah hancur tak membuat Richard Chandler larut dalam kesedihan dan terlalu bernostalgia dengan masa lalu perusahaan yang membawanya ke bisnis investasi multisektor itu. Ia lantas membangun Orient Global dengan serpihan yang tersisa dari Sovereign Group dan berusaha merajut kembali kesuksesan seperti sebelumnya.

Dengan kekayaan sebesar 2,75 miliar dollar New Zealand dari hasil pembagian aset Sovereign Group dengan sang adik, Richard mendirikan kembali kekaisaran bisnisnya.

Jika Sovereign Group yang dia bangun bersama adiknya sejak nol berbasis di Monaco, Richard memilih Singapura sebagai pusat kegiatan Orient Global. Pilihan jatuh ke Negeri Merlion tersebut bukan tanpa sebab. Menurutnya, dominasi ekonomi global akan tetap fokus di Asia. Bahkan, ia memprediksi, kelak pada 2050, benua terbesar di bumi itu bakal menjadi pusat perkembangan ekonomi dunia lewat China dan India.

Richard yakin, Singapura sebagai salah satu negara paling maju di kawasan Asia Tenggara merupakan teritori yang mumpuni guna merancang strategi bisnis. Soalnya, Singapura memiliki letak yang strategis, menjadi negara persilangan dari negara superpower ekonomi di kemudian hari: China dan India.

Selain itu, Richard mengatakan, Singapura juga salah satu macan Asia baru bersama Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan. Dari sisi regional, negara yang mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 31 Agustus 1963 ini berada di kawasan Asia Tenggara yang secara ekonomi sedang tumbuh dan berkembang, bersama antara lain Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Tidak hanya itu, Richard menambahkan, Singapura juga aman, bersahabat, dan transparan untuk menunjang iklim investasi yang lebih kondusif. Dan, di negara yang pernah bergabung dengan Malaysia pada 16 September 1963 tersebut, pria kelahiran Selandia Baru itu membangun kembali kerajaan bisnisnya.

Tak melulu berorientasi bisnis, aspek sosial dan nilai-nilai kemanusiaan juga menarik minat Richard. Tak heran, pada tahun yang sama dengan pendirian Orient Global, ia juga meluncurkan freedom to creative atau dalam terjemahan bebasnya berarti kebebasan berekspresi.

Program itu merupakan bentuk apresiasi Richard terhadap pihak-pihak yang berperan aktif dalam membangun kekuatan seni untuk mempromosikan keadilan sosial. Termasuk, memberikan inspirasi dan semangat kepada setiap manusia di muka bumi ini. Ia kemudian memberikan penghargaan internasional bertajuk The Freedom to Create Prize.

Richard menilai, masyarakat yang adil sangat penting untuk pembinaan kemakmuran dan menciptakan perdamaian dunia. Oleh karena itu, fokus program freedom to creative menyasar wilayah-wilayah yang memiliki masalah intoleransi, konflik serta infrastruktur yang kurang.

Semua faktor itu, Richard mengungkapkan, dapat menghambat kreativitas seseorang untuk berkembang dan maju.

Program sosial ini terus berjalan saat Orient Global bermetamorfosis menjadi R.F. Chandler pada April 2010. Hingga kini, Richard masih konsisten dengan visi dan misi awal program tersebut, yaitu membangun kesejahteraan untuk hari esok. Ia percaya, kreativitas adalah pendorong utama mewujudkan misi tersebut.

Di samping itu, Richard juga mengeluarkan duit dari sakunya sebesar 100 juta dollar AS untuk membantu kegiatan pendidikan di negara-negara berkembang, semisal India, dengan fokus utamanya adalah membangun sekolah swasta murah. (Fahriyadi/Kontan)

Ferry Lestarikan Lukisan Kulit Kayu Turun Temurun

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekalipun usaha lukisan kulit kayu ini bersifat turun temurun, tidak serta merta Yanfrits Kaigere bisa menjalankannya dengan mudah.

Ferry, begitu panggilan akrabnya telah melakukan usaha ini sejak belasan tahun yang lalu. "Sudah 15 tahun," sebut Ferry kepada Kompas.com, dalam acara pameran Usaha Kecil dan Menengah (UKM), di gedung SMESCO, awal pekan lalu.

Dengan kulit kayu khombouw, pria yang berasal dari Kampung Asey Besar, Kecamatan Sentani Timur, Kabupaten Jayapura ini, berhasil membuat lukisan yang indah. Menurutnya lukisan kulit kayu ini hanya ada di kampungnya, Asey. "Pertama kita cari kayu ke hutan, cari pohon, lalu kita tebang. Terus kita ukur per jengkal, dan kuliti. Kita kikis kulit luarnya di rumah, baru ditumbuk," ceritanya.

Setelah itu kayu hasil tumbukan dicelupkan ke dalam air, baru ditiriskan, dan dipakai. "Nggak bisa dari (jenis) pohon lain," tuturnya. Sebab, lanjut dia, kayu pohon ini seperti karet, bisa melar ketika ditarik.

Untuk pewarnaan, dia pun tidak macam-macam. Ferry mengutamakan pewarnaan secara natural. Ia gunakan kapur sirih untuk warna putih, arang digunakan untuk memberikan warna hitam, dan tanah untuk warna merah. "Kita jaga keaslian. Tapi yang lain mulai masuk ke (pewarnaan) yang modern, seperti cat," tambahnya.

Awalnya, ia hanya bekerja sendiri. Kini, ia berhasil memperkerjakan 5-10 orang sebagai pekerja tetap. "Saya tetap ikut. Saya yang menggambar lukisannya," ungkapnya. Pekerjanya membantu untuk proses pewarnaan.

Ia juga mengakui baru dua kali mengikuti pameran, dan keduanya diselenggarakan di Jakarta. "Pernah ke Bali, tapi hanya tarian (menjadi acara utama). Ada juga pameran (tetapi hanya sampingan," sebutnya.

Untuk harga, ia mengungkapkan bervariasi tergantung ukuran dan motif gambarnya. Harga yang termurah yaitu Rp 20.000, dan yang termahal bisa sampai ratusan ribu. Dalam sehari, ia pun bisa menghasilkan 5-6 lembar lukisan kulit kayu. "Biasanya orang lebih suka motif-motif asli, seperti (motif-motif) binatang. Kalau untuk mancanegara atau turis, mereka paling suka motif asli," ungkapnya.

Turis-turis asing membeli secara langsung kepadanya. Mereka berasal dari Amerika, Australia, Jepang, dan Belanda. Berbeda dengan masyarakat lokal, ia mengenakan harga yang lebih tinggi untuk para turis tersebut. Harganya bisa mencapai ratusan ribu. "Ada keinginan untuk ekspor," tambahnya, yang saat ini menyebutkan belum ada peluang untuk itu.

Kendala yang cukup mengganjal, ia menceritakan yaitu ketersediaan bahan baku, kulit kayu pohon tersebut. Saat ini, pencarian kayu pun semakin jauh dari tempat tinggalnya. "Kita suruh orang untuk cari. Terus kita bayar," tuturnya.

Kini, ia pun berpenghasilan sekitar Rp 4 juta dalam satu hingga dua minggu. Dari hasil usaha ini, ia pun berhasilkan menyekolahkan kedua anaknya yang saat ini berada di jenjang SMU dan SMP. Ke depannya, ia pun ingin mengembangkan lagi produknya. "Saya pribadi buka usaha di Sorong, Raja Ampat, di PT Papua Diving, yang dikelola orang Belanda. Jadi rutin kirim tiap bulannya," ungkapnya. Kini, usahanya telah diturunkan kepada kedua anaknya tersebut.


Bambang, dari Pengelola Hotel Jadi Petani Kopi

KOMPAS.com - Bermodalkan hanya kebun seluas dua hektar, dan pengetahuan dari pelatihan, maka jadilah Bambang Sriono menjadi salah satu dari 14 pengusaha kopi bubuk di Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, yang terus bertahan hingga kini.

Bambang, yang juga Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Bondowoso, menyebutkan menjadi petani merupakan pekerjaan yang mendatangkan kesejahteraan dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya. Ia sempat menjadi sales bahan bangunan, hingga pengelola hotel. "Jadi, kalau dilihat dari latar belakang pendidikan itu nggak ada. (Pendidikan) saya dari teknik kimia. Sekarang petani kopi," ungkapnya sembari tertawa kecil, kepada Kompas.com, usai menghadiri peluncuran perdana kopi hasil perkebunan rakyat ke Swiss, di Bondowoso, 10 Juni 2011 lalu.

"Jadi ilmu saya yang saya dapat dari Puslit, saya terapkan. Ya, jadi modalnya kemauan," sebutnya.

Menurutnya ilmu dan tanah, juga kemauan tersebut menjadi modal awalnya baginya, sehingga ia merasa tidak terkendala oleh dana. Bahkan saat ini, lembaga perbankan ramai menawarkan bantuan dana. "Seperti Bank Indonesia ini lewat CSR (Corporate Social Responsbility)-nya. Terus, dari Puslit, ilmu dan teknologinya," ungkapnya.

Ia pun mulai bertani sejak tahun 2000 . Selang enam tahun kemudian, ( 2006 ), ia pun mulai menelurkan merek Rajawali, untuk kopi bubuk arabika dan robusta. "Cuma waktu itu kemasannya pakai seperti itu (kemasan plastik biasa)," ungkapnya. Akhirnya kemasan pun berubah seiring dengan masukan dari Bupati setempat.

Saat itu, ia mematok harga produknya hanya Rp 3.500 per 200 gram. Kini harganya mencapai Rp 8000 per 160 gram untuk robusta, Rp 15.000 untuk arabika dengan satuan berat yang sama.

Ia mengaku bahwa dialah petani yang mengawali memanen kopi dengan "petik merah," dan proses menggunakan proses basah (wet process), di Bondowoso. Apa maksudnya petik merah? Ia menyebutkan selama ini panen yang dilakukan petani di wilayah tersebut, masih mencampur antara biji kopi yang berwarna merah, kuning, dan hijau pada saat panen. "Nah, kalau kami sudah petik merah dari 2005 . Jadi khusus yang buah merah segar dan sehat (BMSS), sebagai syarat untuk mendapatkan mutu berkualitas ekspor," tambahnya.

Petik merah baru dilakukan di lima kelompok tani, atau sekitar 152 petani kopi, mulai tahun 2011 ini, setelah mendapatkan binaan langsung dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. "Jadi saya yang pertama kali melakukan itu di tingkat petani di Bondowoso," sebutnya.

Menurut dia, sebenarnya pada pelatihan yang dikirim oleh Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bondowoso tersebut, ada beberapa petani yang juga dikirim selain dirinya. Tetapi hanya dia yang mengaplikasikannya sendiri.

Adapun proses basah adalah pengolahan pasca-panen dengan menggunakan air. Media ini digunakan untuk memisahkan biji yang bagus untuk diolah lebih lanjut dengan biji yang tidak bagus. "Selama ini petani kan pakai dry process (DP). Begitu dapat dari kebun langsung dijemur dengan kulitnya," ungkapnya.

Cara pengerjaan ini memang terbilang repot, dan butuh ketelatenan. Oleh karena itu, ia menyebutkan, mungkin ini menjadi alasan dari petani yang juga ikut dikirim bersama dengan dia, tidak menerapkannya. Sekarang banyak yang tertarik ikut melakukan proses ini, setelah melihat harga yang didapat lumayan besar.

"Kalau sekarang ini dengan didampingi Puslit (Kopi dan Kakao), terus ada BI (Bank Indonesia), terus semuanya komponen ada. Rupanya kita jadi tahu pasarnya. Jadi lewat eksportir, kita sudah tahu harganya dan jelas pasarnya," ungkapnya.

Sekarang memang sudah dibangun kluster kopi di Bondowoso, oleh sejumlah pihak seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Bondosowoso, Bank Indonesia, Bank Jatim, ADN Perhutani, eksportir, serta APEKI, untuk mengembangkan produk.

Saat ini, ia pun mempunyai lima pekerja dalam mengolah kopi bubuknya, dan mengelola kebunnya yang seluas dua hektar. "Jadi sebelum dikemas, kita perlu uji dulu cita rasa dan timbangannya," tuturnya, yang merupakan bagian dari pekerjaannya selain mengawasi kebun dan pengolahan.

Pada tahun 2007 , produk kopi bubuk Rajawali, baik arabika dan robusta, dipasarkan ke Sumatera, termasuk Jakarta, Semarang, dan Malang. Namun, pemasaran ke kota-kota tersebut masih kecil, dengan 10-20 kilogram per bulannya. Awalnya pemasaran ke kota-kota tersebut, tidak dilakukan secara resmi. "Dititipkan lewat saudara-saudara, baru kemudian berkembang," ungkapnya.

Saat ini, ekspor produk Rajawali ini pun belum dilakukan. Ekspor masih dalam bentuk biji bersama dengan kelompok tani lainnya, yang melakukan pemasaran internasional secara perdana ke Swiss pada November nanti, sebanyak 1 kontainer atau sekitar 18 ton.

Lagipula, lanjut dia, produksi kopi ini pun masih terbatas. Sehingga memenuhi permintaan pasar masih sering kewalahan. Apalagi menjelang Hari Raya Lebaran, di mana banyak pesanan parcel diisi dengan produk kopinya.

Rencana ke depan, ia berkeinginan untuk memperluas lahannya. "Kalau mau mencermati nggak ada sejarahnya kopi bubuk itu harganya turun," sebutnya. Maka ia pun heran, kalau ada pelaku usaha kopi bubuk yang kurang menekuni usahanya.

Selain perluasan lahan, Bambang, yang juga Ketua Forum 'Ahli' Pertanian Madani (Rumah Tani) Bondowoso, pun akan mencoba diversifikasi produk kopi, seperti buat dodol kopi, dan permen rasa kopi.

Mengemas Limbah Kertas Jadi Bisnis Berkelas

KOMPAS.comProduk daur ulang kertas sudah kian jamak di pasaran. Ini membuktikan, ada pangsa pasar untuk produk kreatif ini. Kreativitas mengolah limbah kertas ini bisa menghasilkan keuntungan cukup besar, sementara modal yang dikeluarkan minim.

Produk dari daur ulang kertas memang bukan barang baru di Tanah Air. Sejak tahun 1990-an, produk ini sudah mulai dikenal masyakarat dan sempat booming karena keunikannya.

Jenis produk yang bisa dihasilkan dari daur ulang kertas ini juga terus berkembang. Semula wujudnya hanya frame atau pigura foto dan blocknote. Lalu, bermunculan kreasi produk-produk baru seperti wadah tisu, kotak perhiasan, kotak hantaran, dan kotak kado. Sekarang, produk semacam ini mudah ditemui di pasaran. Yang membedakan produk yang satu dengan yang lain adalah desain, bentuk, dan warna yang kian kreatif.

Isu-isu seputar go green yang masih bergaung hingga sekarang membuat produk-produk dari daur ulang kertas ini semakin diminati. Biasanya, produk-produk dari daur ulang kertas ini dijadikan suvenir dalam berbagai acara.

Tren batik beberapa tahun terakhir juga membuat pamor produk-produk dari daur ulang kertas kian bersinar. Sebab, produk-produk dari bahan bubur kertas yang berkesan etnik ini pas bersanding dengan barang-barang yang dibuat dengan teknik batik. "Masih terbuka pasarnya. Produk frame foto yang merupakan jenis produk paling lawas pun permintaannya masih banyak," kata Diana Herawanti, pemilik Spinifex, perajin produk daur ulang kertas di Bantul.

Pengusaha lain dari Yogyakarta, Dicka Armitasari, juga cukup optimistis dengan peluang bisnis produk yang memanfaatkan limbah ini. "Toko-toko kerajinan cukup banyak, toko-toko batik juga banyak. Jadi, produk-produk kertas daur ulang ikut berpeluang diminati pasar," kata Dicka, yang baru memulai usaha ini tahun 2009.

Hingga saat ini, baik Diana maupun Dicka masih melayani konsumen dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. "Yang datang ke saya biasanya beli untuk dijual kembali," kata Diana.

Dalam sebulan, Diana bisa memproduksi 3.000 unit produk dengan omzet Rp 15 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Sementara itu, Dicka sebulan bisa mendapat pesanan sampai 1.000 unit produk dengan omzet Rp 5 juta hingga Rp 7,5 juta. Keuntungan yang mereka dapat bisa mencapai 50 persen dari omzet.

Mau belajar desain

Bekal utama yang harus dimiliki dalam menjalani usaha semacam ini sudah tentu adalah kreativitas. Maklum, barang yang diproduksi merupakan jenis produk yang terbilang punya nilai seni. "Ia juga harus mau belajar soal tren. Misalnya, sekarang ini konsumen lebih menyukai produk-produk yang sifatnya fungsional bukan sekadar dekoratif," kata Diana.

Menurut Joko Wahyudi, pemilik Ken Rayi Paper Craft di Solo, pembuatan produk dari daur ulang kertas terbilang mudah asalkan pembuatnya punya jiwa seni. "Semua bisa dipelajari dengan mudah asal telaten," katanya.

Dicka yang baru saja lulus kuliah sependapat dengan Joko. Untuk mempelajari pembuatan produk, kita bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya di internet. "Kalau mau belajar langsung juga bisa. Sekarang banyak yang menawarkan pelatihan proses pembuatan kertas daur ulang dan produksinya. Saya dulu memulainya dengan ikut pelatihan," ujarnya.

Joko mengungkapkan, setiap pelaku dalam usaha ini harus memperhatikan selera pasar. Selain itu, mereka kudu mencoba berinovasi sekalipun produk sejenis sudah banyak di pasaran. Misalnya, inovasi dari sisi warna atau hiasannya. Ambil contoh, dari sisi hiasan, si pembuat bisa lebih bermain kombinasi dengan benda-benda unik dan berkesan etnik seperti rempah-rempah, bunga, atau daun kering. Pilihan lain adalah dikombinasikan dengan kain-kain tradisional, seperti batik atau ulos.

Adapun pewarnaan kertas bisa menggunakan warna alam seperti pandan, daun rambutan, atau kunyit. Serat-serat kertas supaya lebih unik bisa dicampur dengan serat nanas atau serat pelepah pisang. Patut diingat, produk-produk semacam ini rawan penjiplakan. Jadi, Anda mesti rutin atau sering-sering melakukan inovasi.

Modal kecil

Untuk menjajal usaha ini, modal yang harus Anda keluarkan tidaklah banyak, antara Rp 1 juta–Rp 3 juta saja. Uang itu digunakan untuk membeli peralatan seperti blender, papan bak kayu, penggaris, ember,cutter, filter, dan alat tulis. Untuk tempat produksi, Anda bisa memanfaatkan ruangan di rumah Anda sehingga bisa hemat ongkos sewa lokasi usaha. Di Jakarta Selatan, sewa tempat ukuran 35 meter persegi berkisar Rp 10 juta–Rp 35 juta per tahun.

Nah, bila ingin merenovasi lokasi produksi, perlu disiapkan uang sekitar Rp 3 juta. "Biaya itu sudah termasuk untuk membeli rak-rak untuk memajang produk," kata Dicka. Untuk melengkapi usaha semacam ini, paling tidak, Anda juga harus memiliki alat transportasi seperti sepeda motor untuk memperlancar usaha.

Menurut Diana, menekan biaya ada baiknya, yakni Anda mendaur ulang kertas sendiri. "Keuntungan yang didapat bisa lebih besar dibandingkan dengan kita membeli kertas daur ulang yang sudah jadi di pasaran," ujarnya.

Asal tahu saja, harga kertas daur ulang ukuran A3 di pasaran seharga adalah Rp 1.500 hingga Rp 2.800 per lembar. Bila dalam sebulan membutuhkan 1.000 lembar kertas, uang yang harus disiapkan sekitar Rp 1,5 juta. Kalau membuat sendiri, dengan uang Rp 200.000–Rp 300.000, Anda sudah bisa menghasilkan kertas sebanyak itu. Harga bahan baku, yakni kertas-kertas bekas atau koran cukup murah. Per kilogram bisa ditebus Rp 1.000. Asumsinya, untuk membuat 1.000 lembar kertas dibutuhkan 100 kg kertas bekas, sehingga Anda hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 100.000.

Sisanya uang bisa Anda gunakan untuk membeli pewarna dan bahan serat lain untuk menghasilkan kertas yang bertekstur. "Selain lebih irit, kita bisa menciptakan tekstur kertas yang kita inginkan sehingga produk kita mempunyai ciri khas kertas yang berbeda dengan yang lain," jelas Diana.

Dalam sebulan, pengeluaran yang harus Anda perhitungkan antara lain adalah pembelian karton sebagai bahan dasar aneka produk. Sedikitnya, Anda harus merogoh kocek Rp 2 juta untuk membeli karton dan lem. Sementara untuk membeli bahan tambahan hiasan produk sekitar Rp 500.000.

Gaji untuk dua orang karyawan sekitar Rp 2 juta. "Karyawan tetap tak usah banyak-banyak, dua–tiga orang saja. Kalau ada orderan banyak, baru pakai tenaga borongan," ujar Joko.

Strategi pemasaran

Diana menyarankan, Anda memperkenalkan produk kertas daur ulang secara online di situs internet. "Saya dulu hanya ditulis profil usahanya dan menampilkan beberapa produk serta mencantumkan nomor telepon. Dari situ, satu per satu pelanggan datang," jelas Diana.

Dengan memamerkan produk-produk di internet, calon konsumen dari segala penjuru dunia bisa mengaksesnya. "Sekarang, yang ramai memang pasar di luar Pulau Jawa. Pesanan saya banyak dari luar Pulau Jawa, biasanya untuk dijual kembali," kata Diana.

Selain memasarkan secara online, Dicka juga aktif ikut bazar atau pameran produk. Dengan aktif memamerkan produk melalui bazar ini, produk akan semakin dikenal. "Saya dulu ikut bazar di kampus-kampus. Dari kesempatan itulah produk saya dikenal dan langsung ada pesanan suvenir. Sampai sekarang, kampus itu masih langganan," papar Dicka.

Selain itu, coba cari rekanan bisnis. Misalnya, toko-toko kerajinan. Di tempat seperti itu Anda bisa menitipkan barang produksi. "Ada lima toko yang saya titipi. Ada toko kerajinan, ada juga toko batik," kata Joko. Biasanya, menembus toko-toko semacam itu tak terlalu sulit asalkan barang yang kita tawarkan layak jual dan mempunyai harga murah.

Patut dicatat, ketika menitipkan barang di toko orang lain, Anda harus rajin menengoknya. Ini penting, guna memperhatikan seberapa besar minat pasar terhadap produk yang ditawarkan. Tujuan lain adalah untuk memperbaharui jenis barang dan membangun kepercayaan dari si pemilik toko.

Menawarkan produk pendamping

Joko menyarankan, seiring perkembangan bisnis produk dari kertas daur ulang Anda, bila bisnis sudah mulai berjalan, ada baiknya Anda mulai menawarkan produk jenis lain yang memang dibutuhkan pasar. “Ini hanya untuk mendongkrak pendapatan saja,” kata Joko.

Ambil contoh Joko. Setelah menitipkan produk berbahan baku kertas daur ulang di toko batik, dia menangkap peluang lain, yaitu permintaan kemasan batik. Joko pun menawarkan tas berbahan kertas dengan desain yang disesuaikan dengan karakter toko batik tersebut. Hasilnya, pesanan pembuatan tas kertas ini tak kalah ramai dibandingkan dengan pesanan produk-produknya berbahan kertas daur ulang tadi.

Begitu juga dengan Diana yang mencoba memberikan tawaran produk lain, seperti lilin hias. “Ini supaya konsumen juga punya pilihan belanja yang lain,” katanya.

Jika tekun menjalani usaha ini, siapa tahu berkah lain siap menanti Anda yang eksis dan sukses. Diana, yang sudah menjalankan usaha ini sejak 2000, kini, mulai sering mendapat tawaran untuk memberikan pelatihan proses pembuatan kertas daur ulang dan produksi barang dari kertas daur ulang. Sudah tentu, menjadi mentor dalam pelatihan tak gratis. Honornya bisa jadi penambah uang saku.

Bagaimana, Anda juga tertarik mencoba? (Fransiska Firlan/Kontan)

Bisnis Makanan, Enak Menjadi Syarat Utama

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam berbisnis kuliner, makanan enak menjadi syarat utama. Setelahnya, pelaku usaha harus bisa melakukan sejumlah kiat untuk dapat bertahan dalam bisnisnya.

"Kalau kita punya ide atau cita-cita. Kita harus lakukan sekarang juga jangan tunggu besok atau lusa," ujar Ferry Salim dalam membawakan sesi Sukses Wirausaha Kuliner pada ajang Sedap Mighty Culinary di Senayan, Minggu (24/7/2011).

Itu menjadi semacam kiat awal dalam memulai bisnis. Selain itu, aku dia, bisnis pun harus dilakukan dengan konsisten. "Saya kalau melakukan sesuatu betul-betul maksimal," tuturnya, yang mempunyai bisnis kuliner Shabu Slim dengan konsep all you can eat.

Karena keseriusannya, ia mengaku sering berada di toko, baik untuk ngobrol dengan pelanggan maupun membantu memasak. "Bidang bisa sama, tapi penyajian harus berbeda sehingga orang mendapatkan sesuatu," tambah dia.

Menurut Ferry, sesuatu yang berbeda akan menarik perhatian orang. Oleh sebab itu, ia pun membukan bisnis kulinernya dengan menggunakan konsep conveyour belt, di mana makanan sushi dan shabu-shabu akan berputar di antara meja-meja pelanggan.

Tidak lupa ia mengingatkan, pelaku usaha harus berani rugi. "Kalau kita terjun ke dunia usaha sudah pasti harus berani rugi," sebut dia, yang menetapkan batasan waktu bagi pelanggan untuk berada di restorannya paling lama 1 jam 30 menit supaya terjadi perputaran pelanggan. Kegagalan, sebut dia, bukan berarti membuat pelaku usaha harus berhenti.

Adapun untuk mempromosikan produknya, menurutnya, bisa menggunakan media sosial atau eletronik. Ini karena informasi melalui media ini cukup cepat. "Dan harus ada target. Dengan adanya target, keuntungan akan datang," katanya.

Mengenai tenaga kerja, ia menganjurkan pengusaha bisa membuat karyawan dapat mempunyai rasa memiliki atas usaha tersebut. Konsep ini ia terapkan dengan memberikan share usaha kepada kokinya.

Secara keseluruhan, Ferry menyebutkan saat ini hanya 0,18 persen penduduk Indonesia yang menjadi pengusaha. Ini masih jauh dari persentase yang seharusnya, yaitu minimal 2 persen penduduk supaya negara bisa maju.

Bisnis kuliner ini pun masih terus potensial untuk berkembang. Mengutip pernyataan Bob Sadino, ia mengatakan, "Selama orang makan dan melakukan buang air besar, bisnis kuliner akan jalan terus."

Belahan Kayu Hasilkan Miliaran Rupiah

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa yang dapat menyangka setiap belahan kayu kelapa (atau disebut glugu) dapat memunculkan ribuan motif titik. Dialah, M Amin, yang dapat berkesempatan melihatnya dan menjadikannya sebagai motif batik. "Saya tiap hari lihat papan yang saya belah, terinspirasi dari situ, cita-cita saya (waktu lihat belahan papan itu), bagaimana bisa jadi motif fashion," ungkap M Amin, pemilik usaha Batik Glugu Abadi, kepada Kompas.com, di sela-sela pameran busana yang diselenggarakan oleh Bank BRI, Jakarta, akhir bulan Juni lalu.

Motif batik glugu miliknya memang terbilang unik. Berbeda dengan motif batik pada umumnya. Siapa menduga usaha batik yang baru sah berdiri 14 Mei 2010, telah meraih omzet sebesar Rp 1,5 miliar per Desember 2010.

Motif ini sebenarnya dia amati semenjak memulai usaha mebel dari tahun 1999. Namun, usaha yang telah digelutinya selama belasan tahun ini untuk sementara ditinggalkannya demi menjalankan usaha batiknya. "Satu gelondong kayu bisa 10 motif. Tergantung kita belahnya seperti apa," sebutnya.

Hingga kini Amin telah memiliki koleksi sekitar 3.500 motif. Oleh karena banyaknya motif tersebut, batiknya pun banyak dipesan sebagai seragam kantor dan sekolah di wilayah Boyolali hingga ke daerah Yogyakarta.

Batiknya pun kini telah memiliki hak paten, yang didapatnya tanggal 7 Februari 2010, dan hak cipta (4 Februari 2010).

Sebelum sukses menjual batik seperti sekarang, Amin yang mengaku tidak memiliki keterampilan membatik ini, melakukan uji coba selama sepuluh tahun. "Saya foto motif kayu, saya fotokopi. Kemudian, saya minta ke sejumlah tempat untuk buatin baju dengan motif yang saya bawa. Tidak ada yang bisa," ceritanya.

Akhirnya, ia pun mencoba sendiri dengan bantuan penggunaan aplikasi CorelDraw, yang digunakan untuk "memainkan" motif-motif yang diperolehnya dari belahan kayu kelapa tersebut. Setelah itu, selama enam bulan sebelum usaha batik sah berdiri, ia melakukan uji coba yaitu dengan memproduksi pakaian dengan sejumlah motif yang diciptakannya sebanyak 20 kodi. "Itu saking bahagianya. Mau lihat pantes apa tidak dipakai," jawabnya terkait alasan mengapa menggunakan begitu banyak pakaian.

Karena tidak punya bekal keahlian membatik, ia pun memakai tenaga kerja yang sudah ahli, yang saat ini berjumlah 18 orang tenaga tetap. "Sekarang ini saya masih terus belajar batik," tuturnya.

Ia mengaku, batik glugu miliknya dapat beradaptasi dengan motif batik-batik lokal. "Kan, batik itu maknanya titik. Kalau sudah ada titik, ya sudah batik namanya," sebutnya, di mana motif batik glugu cenderung berupa titik, dan garis-garis kecil, seperti halnya guratan dalam belahan kayu kelapa.

Saat ditanya mengenai modal awal membuat batik ini, Amin enggan menyebutkannya. "Saya menilai prestasi itu kan butuh perjuangan. Jadi dana yang saya punyai saat itu tersedot ke usaha ini," jawabnya terkait modal awal.

Satu hal yang pasti, ia belum pernah meminjam dana sampai ke bank. "Filosofi saya, manusia dan alam jika disatukan itu menuju kekuatan yang tidak terbatas," ungkapnya.

Batik glugu pun dipasarkan dengan harga yang cukup terjangkau. Bahan katun dihargai sekitar Rp 70.000 per dua meter. Dengan ukuran yang sama, bahan sutra dihargai sekitar Rp 300.000. "Kebahagiaan kita kalau hasil karya disenangi orang, jadi nggak usah mahal-mahal," tuturnya, yang memakai rumahnya sebagai tempat pembuatan dan penjualan.

Satu hal yang diharapkannya adalah ketika orang melihat motif batik hasil belahan kayu kelapa tersebut, maka orang dapat langsung menilai, "Itu batik glugu," tuturnya singkat.


Dua Desa Sasaran Pemberantasan Buta Aksara

Dua desa tertinggal di Tabalong, Kalimantan Selatan, yakni Desa Dambung dan Dusun Undul Desa Bumi Makmur, menjadi sasaran program pemberantasan buta aksara oleh Kementerian Pendidikan Nasional.

Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional Hari Tri Nurawan, di Tanjung, Rabu (20/7), mengatakan pemberantasan buta aksara khususnya di daerah terpencil dan tertinggal merupakan bagian dari program pembinaan pendidikan masyarakat.

"Harapan kita masyarakat yang tinggal di desa tertinggal bisa lebih maju, salah satunya melalui program pemberantasan buta aksara," katanya dalam acara semiloka sinergi program pemberdayaan masyarakat oleh pusat kegiatan belajar.

Hari mengungkapkan saat ini terdapat 183 kawasan adat terpencil yang tersebar di Indonesia dengan jumlah penyandang buta aksara 8,3 juta orang.

"Jumlah penyandang buta aksara di Indonesia masih cukup tinggi, sekitar 8,3 juta orang, karena itu pembinaan pendidikan masyarakat perlu dilakukan secara bersama-sama oleh sektor terkait," ujarnya.

Di Tabalong jumlah penyandang buta aksara 598 orang, salah satunya di Dusun Undul yang tercatat 40 orang.

Kepala Dinas Pendidikan Tabalong Erwan mengatakan untuk mendukung program pemberantasan buta huruf telah dibangun SD kecil di Dusun Undul.

"Sekitar 20 orang anak di Dusun Undul belum tersentuh pendidikan sehingga dibangun SD kecil dengan menggunakan sistem berkunjung," kata Erwan.

Ia mengatakan, untuk pemenuhan tenaga guru di wilayah desa terpencil, Diknas memberdayakan warga lokal dengan memberikan kesempatan kuliah diploma dua secara gratis.

"Tenaga pendidik di daerah terpencil khususnya Dusun Undul dan Desa Dambung memang masih kurang, rencananya kita akan berdayakan warga setempat untuk menjadi guru dengan memberikan kesempatan kuliah diploma dua," katanya./mi*C


Sumber

BI Sediakan Uang Receh Rp4 Triliun

Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 1432 Hijriah pada akhir Juli ini Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan telah menyiapkan uang receh sebanyak Rp4 triliun untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam membayar gaji dan tunjangan hari raya.

Hal tersebut disampaikan Direktur Regional Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Kharil Anwar pada saat mengevaluasi kesiapan pemenuhan uang bagi masyarakat di Banjarmasin, Senin.

Menurut dia, Bank Indonesia Banjarmasin telah menyiapkan Rp4 triliun dalam berbagai denominasi pecahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Kalsel dan Kalimantan Tengah.

Jumlah tersebut, kata dia, juga untuk mengantisipasi kebutuhan gaji dan THR yang diperkirakan akan dibayarkan pada bulan Agustus 2011.

Berdasarkan data historis, tambah Khairil, kenaikan permintaan uang menjelang lebaran bisa mencapai lima hingga enam kali lipat dari kondisi normalnya yang rata-rata sebesar Rp188 miliar per bulan.
Selain itu, kata dia, Bank Indonesia juga senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap uang rupiah dalam jumlah yang memadai dan kondisi yang layak edar.

"Kebutuhan terhadap uang segar ini telah mentradisi untuk meningkat pada momentum bulan Ramadhan dan Idul Fitri, terutama beberapa saat menjelang Hari Raya Idul Fitri," tambahnya.

Oleh karena itu Bank Indonesia Banjarmasin telah melakukan upaya antisipatif jauh hari sebelumnya agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi pada saatnya.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan uang rupiah yang layak edar menjelang dan selama bulan Ramadhan, serta Hari Raya Idul Fitri tahun 2011, Bank Indonesia Banjarmasin dan seluruh perbankan, terutama bank-bank umum di Kalimantan Selatan berkomitmen untuk memberikan layanan penukaran uang rupiah secara optimal.

BI tambah Khairil, tidak akan membatasi penukaran uang, berapapun jumlah kebutuhan masyarakat akan dipenuhi.

Uang pecahan yang disiapkan yaitu mulai dari pecahan Rp50 (lima puluh rupiah) hingga pecahan kertas Rp100.000 (seratus ribu rupiah) kami sediakan dalam layanan penukaran kas.

Memudahkan akses masyarakat terhadap layanan penukaran uang, kata dia, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan penukaran di seluruh bank umum maupun BPR.

"Dengan tersebarnya layanan penukaran uang, diharapkan akan mengurangi antrean panjang yang biasanya menumpuk di Bank Indonesia," tambah Khairil./B*C


Koperasi Miliki Aset Rp2,2 Miliar

Koperasi perkreditan Reno Welum di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan yang didirikan pada 2008 hingga kini telah memiliki aset Rp2,2 miliar.
Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Balangan Rudiansyah saat membuka Lokakarya Perkoperasian di Aula Gedung SKB Paringin, di Paringin, ibu kota Balangan, Kamis.

Menurut dia, keberhasilan Koperasi Perkreditan tersebut dapat dijadikan contoh bagi koperasi-koperasi lain di Balangan untuk maju dan berkembang.

"Melalui kegiatan lokakarya mari kita samakan visi dan misi serta pemahaman tentang dunia perkoperasian sehingga dapat menciptakan koperasi yang mandiri," ujarnya.

Koperasi Perkreditan Reno Welum pada awal berdiri merupakan koperasi biasa yang akhirnya berkembang.
"Koperasi tersebut kini tidak hanya melayani pinjaman saja tetapi anggotanya juga bisa melakukan penyimpanan," katanya.

Hingga akhir 2010, Koperasi Perkreditan Reno Welum sahamnya sudah mencapai Rp737 juta dengan jumlah simpanan anggota Rp1,6 miliar dan penyaluran pinjaman Rp839 juta serta total aset Rp2,2 miliar.

Keberhasilan tersebut dapat diraih berkat pemahaman yang benar terhadap prinsip-prinsip perkoperasian dan kemampuan untuk menjalankan dengan baik.

Ia menambahkan, bagi koperasi yang tidak produktif, tidak aktif dan tidak sehat dapat dilakukan pembubaran.
"Disperindakop berhak melakukan pembubaran koperasi tidak sehat yang keberadaannya berpotensi mengganggu koperasi lainnya yang masih sehat, dengan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994," tambahnya.

Di Kabupaten Balangan tercatat telah dilakukan pembubaran terhadap lima koperasi karena dinilai sudah tidak sehat, tidak aktif dan kontra produktif.
Kegiatan lokakarya itu mengusung tema Menciptakan Koperasi Yang Mandiri dan Berperan Dalam Pembangunan Daerah, menghadirkan nara sumber para Ketua Koperasi yang telah berhasil memberikan kiat-kiat dalam memajukan koperasi.(Adi/A)

Peredaran Uang Palsu Meresahkan

Peredaran uang palsu terutama pecahan Rp100.000 di Kalimantan Selatan menjelang Ramadhan 1432 Hijriah cukup meresahkan warga Banjarmasin.

Pengusaha mie di Banjarmasin Fadhlan, Kamis mengatakan, dalam dua hari berturut-turut dia mendapatkan uang palsu sebanyak Rp600.000 saat tagihan kebeberapa pedagang pasar di Banjarmasin.

Menurut dia, uang palsu tersebut merupakan uang pecahan Rp100.000 yang fisiknya sama persis dengan uang asli sehingga sulit dikenali melalui mata telanjang.

"Pada saat tagihan saya sudah meneliti satu persatu bahkan membandingkan dengan uang asli ternyata tetap saja dapat yang palsu," katanya.

Uang tersebut baru diketahui palsu, kata dia, setelah ditanyakan ke Bank Kalsel dan dilihat dengan alat pendeteksi.

"Awalnya petugas bank juga tidak menyangka bila uang tersebut palsu setelah dilihat dengan alat pendeteksi baru diketahui kalau uang tersebut palsu," katanya.

Beberapa pedagang di Pasar Lima kini juga mengaku khawatir melakukan transaksi karena telah sering mendapatkan uang palsu yang bisa membuat mereka bangkrut.

"Kita mendapatkan satu lembar uang palsu Rp100.000 saja maka keuntungan kita bisa habis," kata salah seorang pedagang jagung.

Secara kasat mata, lembaran uang palsu Rp100.000 tersebut terlihat sama dengan yang asli baik warna, kertas juga menggunakan garis hologram.

Bahkan garis tipis mengkilat yang informasinya hanya ada pada uang asli juga ada di uang palsu, satu-satunya ciri fisik yang membedakan adalah bila disorot dengan senter tidak terlihat tulisan Bank Indonesia.

Selain itu, bila diamati lebih teliti warna angka Rp100.000 dipojok bawah sedikit agak merah dibanding dengan uang asli tetapi perbedaannya cukup samar begitu juga dengan kertasnya, uang palsu sedikit agak mengkilat tetapi hampir tidak ada perbedaan dengan uang ratusan baru.

Humas Bank Indonesia Banjarmasin Andi Widianto mengatakan, biasanya peredaran uang palsu menjelang Ramadhan dan Idul Fitri terjadi peningkatan karena konsumsi masyarakat meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, tambah dia, BI kini juga terus meningkatkan sosialisasi tentang uang palsu baik secara fisik dan bagaiaman cara mengatasinya.

"Kami juga mengimbau masyarakat lebih waspada dan bila menemukan uang palsu segera melaporkan kepada aparat terkait agar segera bisa ditindaklanjuti," katanya.(B/A)


Jenglot Ditemukan di Pantai Jimbaran Bali

VIVAnews Warga pantai Labuan Sait Pecatu, Jimbaran, Bali dihebohkan oleh penemuan sepasang makam misterius diantara karang pantai.

Makam tersebut ditemukan pertama kali oleh petugas Bala Wista Labuan Sait Pecatu Jimbaran saat sedang memantau pantai dari atas bukit karang, Jumat 7 Mei 2010. Saat menoleh ke samping kiri, petugas itu curiga dengan gundukan misterius yang ternyata adalah makam.


Setelah makam tersebut digali, warga menemukan tiga buah benda yakni berupa putri duyung rambut panjang berukuran kecil dan dibungkus dengan kain putih dan dua lagi berupa jenglot dengan posisi tidur dan bersila dengan panjang masing-masing sekitar 40 centimeter (cm).

Sementara, di sekitar lokasi penemuan makam tercium aroma wangi yang bercampur bau mayat.

Bendesa adat Pecatu, I Wayan Rebong mengatakan penemuan ini merupakan kejadian pertama kali di wilayahnya sehingga akan memusyawarahkan terlebih dahulu dengan warganya jika harus menghanyutkannya ke laut.

”Ini pertama kali di desa kami. Apakah akan dihanyutkan ke laut atau tidak kita musyawarahkan dulu dengan warga. Sementara ini mayat-mayat tersebut kita letakan di tempat penemuannya dan menunggu hasil,” ujarnya.

Penemuan makam misterius ini pun membuat wisatawan yang menikmati liburannya merasa terganggu. (jn)

Bagaimana Merencanakan Investasi?


KOMPAS.com - Melakukan investasi bukan merupakan perkara gampang bagi sebagian orang. Mengapa? Jangankan mau memulai investasi, mendengar kata investasi saja sudah alergi.

Pemberitaan mengenai hilangnya dana nasabah, pembobolan rekening dan investasi bodong yang marak di beberapa media membuat kita takut untuk berinvestasi. Banyak nasabah yang mengalami kerugian investasi akibat dari praktek tidak terpuji para oknum praktisi keuangan. Takut berinvestasi .... Pasti ....Trauma ....Iya.....kemudian bagaimana? Apakah kita lantas langsung memutuskan untuk tidak perlu berinvestasi ?...wah jangan dong....

Tidak ada di dunia ini yang bebas resiko. Tidak ada kondisi yang akan selalu sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Anda mungkin berkata , terus bagaimana? apa yang harus kita lakukan? Jawabannya: Stay Invested ( Tetap Berinvestasi)

Perencanaan Investasi

Investasi itu bisa direncanakan, bahkan memang harus direncanakan. Proses perencanaan investasi ini lah yang menjadi titik awal dimana investasi anda akan berujung keberhasilan atau kegagalan.

“Perencanaan investasi adalah suatu proses bagaimana anda mengakumulasikan aset dan pendapatan rutin yang anda miliki saat ini untuk mempersiapkan kebutuhan dana yang akan terjadi di masa depan”.

Apa saja kebutuhan dana di masa depan ? Pendidikan sekolah anak Anda, dimana ia akan melanjutkan universitas, persiapan dana pensiun anda, pernikahan putra-putri anda dan kewajiban finansial lain yang akan timbul di masa depan, itulah hal-hal yang menjadi kebutuhan di masa depan Anda.

Kewajiban-kewajiban finansial dimasa depan sudah pasti terjadi , anda tidak bisa menolak dan menghindar. Pertanyaan selanjutnya adalah : Apakah Berinvestasi Merupakan Pilihan Terbaik ? Ya, sepanjang anda melakukan perencanaan yang tepat maka investasi merupakan pilihan terbaik.

Berikut ini beberapa langkah yang bisa anda lakukan ketika berencana melakukan Investasi :

1. Tentukan tujuan / kegunaan dari Investasi anda
Anda harus menentukan apa tujuan anda berinvestasi. Apakah dana yang anda investasikan hanya untuk keamanan (safety), untuk mendapatkan pendapatan rutin (routine cash flow) atau Anda mengharapkan adanya perkembangan dana (growth). Apabila anda sudah menentukan mana yang anda pilih maka investasi anda akan berjalan sesuai dengan pilihan anda. Banyak orang yang ketika berinvestasi, tidak mengetahui tujuannya untuk apa. Umumnya mereka berinvestasi karena melihat atau mendengar temannya mendapat untung dadakan dan kemudian mencoba ikut-ikutan. Eh,, ketika ikutan bukannya untung malah buntung....

2. Tentukan kapan dana investasi tersebut akan anda gunakan
Sudah semestinya anda tahu persis kapan dana anda dibutuhkan , berapa nilainya dan untuk keperluan apa. Apabila anda sudah mengetahui detil kapan dana dibutuhkan maka proses memilih kendaraan investasi yang sesuai dengan tujuan tersebut akan lebih mudah. Secara umum produk investasi sudah dibagi berdasarkan jangka waktunya : Jangka pendek (1-2 Tahun), Jangka Menengah (2-5 Tahun ) dan Jangka Panjang ( > 5 Tahun).

3. Kenali resiko investasi
Setiap Investasi pasti mengandung resiko . Tidak ada investasi yang bebas dari resiko. Namun anda harus ingat dibalik setiap resiko pasti ada keuntungannya. Resiko dan keuntungan berjalan beriringan. Resiko tinggi pasti memiliki keuntungan tinggi begitu pula sebaliknya. Apabila anda pernah ditawari produk investasi yang tidak ada resiko namun memiliki keuntungan tinggi maka ada dua hal yang dapat kita simpulkan : “Penjual tersebut penipu, atau penjual tersebut bodoh” (maaf..)

4. Tentukan berapa besar dana yang akan diinvestasikan dan seberapa sering anda akan menempatkan dana
Mengapa hal ini menjadi penting ? karena beberapa pilihan investasi biasanya memiliki syarat minimal penempatan investasi. Oleh karena itu anda harus mengetahui berapa jumlah dana yang akan anda investasikan. Gunanya agar Anda langsung bisa menentukan apakah anda akan berinvestasi secara sekaligus (lump sum) atau akan rutin setiap bulan. Ini ada kaitannya dengan metode investasi. Kedua metode tersebut sama baiknya namun dari beberapa literatur investasi didapatkan bahwa semakin sering anda berinvestasi semakin efisien hasil dari investasi anda.

5. Buatlah daftar pilihan kendaraan investasi
Kendaraan atau instrument investasi di pasaran banyak sekali. Mulai dari Obligasi, Saham, Reksa Dana , ETF (Exchange Traded Fund), komoditi dan option. Banyak orang mulai berinvestasi pertama kali hanya karena mereka ditawari oleh orang terdekat atau memang tidak tahu lagi jenis investasi lainnya. Kemudian ketika investasi merugi, orang tersebut menjadi trauma. Sudah sepantasnya anda melakukan riset mengenai produk yang ada dipasaran, kemudian pelajari karakter dari setiap produk. Tentukan mana yang menurut anda yang paling cocok dan sesuai dengan karakter dan tujuan investasi anda.

6. Implementasi
Anda sudah berencana, sudah tahu investasi mana yang akan anda pilih, dana sudah anda persiapkan.., nah saatnya untuk mengubah dari rencana menjadi aksi / implementasi. Banyak orang yang pintar berencana namun tidak pernah mengimplementasikan rencana tesebut. Bagaimana anda akan sampai ke tujuan apabila Anda tidak mulai berjalan. Takut....loh, khan anda sudah merencanakan dengan baik. Apabila rencana sudah dibuat sebaik mungkin maka implementasi akan berjalan sesuai dengan harapan juga.

7. Monitor dan Evaluasi dana Investasi Anda
Monitor investasi berguna untuk mengetahui tindakan apa yang musti dilakukan apabila rencana dan implementasi yang anda lakukan ternyata melenceng jauh. Anda akan menjadi pengambil keputusan utama mengenai tindakan apa yang harus dilakukan. Jangan hanya mengandalkan informasi dari orang lain atau advisor anda. Kejadian memilukan yang baru saja terjadi mengenai hilangnya dana nasabah hingga miliaran rupiah adalah karena investor terlalu percaya penuh dan tidak memonitor secara rutin dananya.

Realitasnya , berinvestasi memang tidak semudah membalikan tangan.. Perlu terus belajar dan tidak menyerah ketika tersandung. Dunia Investasi terus berkembang dan sangat dinamis, dimana peluang investasi terus berdatangan kepada anda. Langkah-langkah diatas bisa dijadikan acuan pertama ketika anda mau berinvestasi. Pada kesempatan selanjutnya, penulis akan menjelaskan hal lainnya yang berkaitan dengan dunia investasi dan implementasinya.

Selamat berinvestasi, sukses untuk Anda..... (Pondra Nala Permana, CFP®, AEPP™/Equity Partner Consultant, TGRM Financial Planning Services)